Senin, 12 November 2012

sejarah fotografi


Sejarah Fotografi dimulai pada abad ke-19. Tahun 1839 merupakan tahun awal kelahiran fotografi. Pada tahun itu, di Perancis dinyatakan secara resmi bahwa fotografi adalah sebuah terobosan teknologi. Saat itu, rekaman dua dimensi seperti yang dilihat mata sudah bisa dibuat permanen.
Sejarah fotografi bermula jauh sebelum Masehi. Pada abad ke-5 Sebelum Masehi (SM), seorang pria bernama Mo Ti mengamati suatu gejala. Jika pada dinding ruangan yang gelap terdapat lubang kecil (pinhole), maka di bagian dalam ruang itu akan terefleksikan pemandangan di luar ruang secara terbalik lewat lubang tadi. Mo Ti adalah orang pertama yang menyadari fenomena camera obscura. (The History of Photography karya Alma Davenport, terbitan University of New Mexico Press tahun 1991)
Berabad-abad kemudian, banyak yang menyadari dan mengagumi fenomena ini, sebut saja Aristoteles pada abad ke-3 SM dan seorang ilmuwan Arab Ibnu Al Haitam (Al Hazen) pada abad ke-10 SM, yang berusaha untuk menciptakan serta mengembangkan alat yang sekarang dikenal sebagai kamera. Pada tahun 1558, seorang ilmuwan Italia, Giambattista della Porta menyebut ”camera obscura” pada sebuah kotak yang membantu pelukis menangkap bayangan gambar (Bachtiar: 10).
Menurut Szarkowski dalam Hartoyo (2004: 21), nama camera obscura diciptakan oleh Johannes Kepler pada tahun 1611. “Johannes Keppler membuat desain kamera portable yang dibuat seperti sebuah tenda, dan memberi nama alat tersebut: camera obscura. Didalam tenda sangat gelap kecuali sedikit cahaya yang ditangkap oleh lensa, yang membentuk gambar keadaan di luar tenda di atas selembar kertas”.
Berbagai penelitian dilakukan mulai pada awal abad ke-17 ,seorang ilmuwan berkebangsaan Italia – Angelo Sala menggunakan cahaya matahari untuk merekam serangkaian kata pada pelat chloride perak. Tapi ia gagal mempertahankan gambar secara permanen. Sekitar tahun 1800, Thomas Wedgwood, seorang berkebangsaan Inggris bereksperimen untuk merekam gambar positif dari citra pada camera obscura berlensa, hasilnya sangat mengecewakan. Humphrey Davy melakukan percobaan lebih lanjut dengan chlorida perak, tapi bernasib sama juga walaupun sudah berhasil menangkap imaji melalui camera obscura tanpa lensa.
Akhirnya, pada tahun 1824, seorang seniman lithography Perancis, Joseph-Nicephore Niepce(1765-1833), setelah delapan jam meng-exposed pemandangan dari jendela kamarnya, melalui proses yang disebutnya Heliogravure (proses kerjanya mirip lithograph) di atas pelat logam yang dilapisi aspal, berhasil melahirkan sebuah imaji yang agak kabur, berhasil pula mempertahankan gambar secara permanent. Ia melanjutkan percobaannya hingga padatahun 1826 inilah yang akhirnya menjadi sejarah awal fotografi yang sebenarnya. Foto yang dihasilkan itu kini disimpan di University of Texas di Austin, AS.
Penelitian demi penelitian terus berlanjut hingga pata tanggal tanggal 19 Agustus 1839, desainer panggung opera yang juga pelukis, Louis-Jacques Mande’ Daguerre (1787-1851) dinobatkan sebagai orang pertama yang berhasil membuat foto yang sebenarnya: sebuah gambar permanen pada lembaran plat tembaga perak yang dilapisi larutan iodin yang disinari selama satu setengah jam cahaya langsung dengan pemanas mercuri (neon). Proses ini disebut daguerreotype. Untuk membuat gambar permanen, pelat dicuci larutan garam dapur dan asir suling. Januari 1839, Daguerre sebenarnya ingin mematenkan temuannya itu. Akan tetapi, Pemerintah Perancis berpikir bahwa temuan itu sebaiknya dibagikan ke seluruh dunia secara cuma-cuma.
Fotografi kemudian berkembang dengan sangat cepat. Melalui perusahaan Kodak Eastman, George Eastman mengembangkan fotografi dengan menciptakan serta menjual roll film dan kamera boks yang praktis, sejalan dengan perkembangan dalam dunia fotografi melalui perbaikan lensa,shutter, film dan kertas foto.
Tahun 1950, untuk memudahkan pembidikan pada kamera Single Lens Reflex maka mulailah digunakan prisma (SLR), dan Jepang pun mulai memasuki dunia fotografi dengan produksi kamera NIKON. Tahun 1972 kamera Polaroid temuan Edwin Land mulai dipasarkan. Kamera Polaroid mampu menghasilkan gambar tanpa melalui proses pengembangan dan pencetakan film.
Kemajuan teknologi turut memacu fotografi secara sangat cepat. Kalau dulu kamera sebesar tenda hanya bisa menghasilkan gambar yang tidak terlalu tajam, kini kamera digital yang cuma sebesar dompet mampu membuat foto yang sangat tajam dalam ukuran sebesar koran.

SEJARAH FOTO GRAFI


Kronologi perkembangan fotografi dimulai dengan:
§  1822 – Joseph Nicéphore Niépce membuat foto Heliografi yang pertama dengan subyek Paus Pius VII, menggunakan proses heliografik. Salah satu foto yang bertahan hingga sekarang dibuat pada tahun 1825.[1]
§  1826 – Joseph Nicéphore Niépce membuat foto pemandangan yang pertama,yang dibuat dengan pajanan selama 8 jam.
§  1835 – William Henry Fox Talbot menemukan proses fotografi yang baru.
§  1839 – Louis Daguerre mematenkan daguerreotype.
§  1839 – William Henry Fox Talbot menemukan proses positif/negatif yang disebut Tabotype.
§  1839 – John Herschel menemukan film negatif dengan larutan Sodium thiosulfate/hyposulfite of soda yang disebut hypo atau fixer.
§  1851 – Frederick Scott Archer memperkenalkan proses koloid.
§  1854 – André Adolphe Eugène Disdéri memperkenalkan rotating camera yang dapat merekam 8 citra berbeda dalam satu film. Setelah hasilnya dicetak di atas kertas albumen, citra tersebut dipotong menjadi 8 bagian terpisah dan direkatkan pada lembaran kartu. Kartu ini menjadi inspirasi penyebutan (fr:carte de visite, bahasa Inggris:visiting card)
§  1861 – Foto berwarna yang pertama diperkenalkan James Clerk Maxwell.
§  1868 – Louis Ducos du Hauron mematenkan metode subtractive color photography.
§  1871 – Richard Maddox menemukan film fotografis dari emulsi gelatin.
§  1876 – F. Hurter & V. C. Driffield memulai evaluasi sistematis pada kepekaan emulsi fotografis yang kemudian dikenal dengan istilah sensitometri.
§  1878 – Eadweard Muybridge membuat sebuah foto high-speed photographic dari seekor kuda yang berlari.
§  1887 – Film Seluloid yang pertama diperkenalkan.
§  1888 – Kodak memasarkan box camera n°1, kamera easy-to-use yang pertama.
§  1887 – Gabriel Lippmann menemukan reproduksi warna pada foto.
§  1891 – Thomas Alva Edison mematenkan kamera kinetoskopis (motion pictures).
§  1895 – Auguste and Louis Lumière menemukan cinématographe.
§  1898 – Kodak memperkenalkan produk kamera folding Pocket Kodak.
§  1900 – Kodak memperkenalkan produk kamera Brownie.
§  1901 – Kodak memperkenalkan 120 film.
§  1902 – Arthur Korn membuat teknologi phototelegraphy;; yang mengubah citra menjadi sinyal yang dapat ditransmisikan melalui kabel. Wire-Photosdigunakan luas di daratan Eropa pada tahun 1910 dan transmisi antarbenua dimulai sejak 1922.
§  1907 – Autochrome Lumière merupakan pemasaran proses fotografi berwarna yang pertama.
§  1912 – Vest Pocket Kodak menggunakan 127 film.
§  1913 – Kinemacolor, sebuah sistem "natural color" untuk penayangan komersial, ditemukan.
§  1914 – Kodak memperkenalkan sistem autographic film.
§  1920s – Yasujiro Niwa menemukan peralatan untuk transmisi phototelegraphic melalui gelombang radio.
§  1923 – Doc Harold Edgerton menemukan xenon flash lamp dan strobe photography.
§  1925 – Leica memperkenalkan format film 35mm pada still photography.
§  1932 – Tayangan berwarna pertama dari Technicolor bertajuk Flowers and Trees dibuat oleh Disney.
§  1934 – Kartrid film 135 diperkenalkan, membuat kamera 35mm mudah digunakan.
§  1936 – IHAGEE membuat Ihagee Kine Exakta 1. Kamera SLR 35mm yang pertama.
§  1936 – Kodachrome mengembangkan multi-layered reversal color film yang pertama.
§  1937 – Agfacolor-Neu mengembangkan reversal color film.
§  1939 – Agfacolor membuat "print" film modern yang pertama dengan materi warna positif/negatif.
§  1939 – View-Master memperkenalkan kamera stereo viewer.
§  1942 – Kodacolor memasarkan "print" film Kodak yang pertama.
§  1947 – Dennis Gabor menemukan holography.
§  1947 – Harold Edgerton mengembangkan rapatronic camera untuk pemerintah Amerika Serikat.
§  1948 – Kamera Hasselblad mulai dipasarkan.
§  1948 – Edwin H. Land membuat kamera instan yang pertama dengan merk Polaroid.
§  1952 – Era 3-D film dimulai.
§  1954 – Leica M diperkenalkan.
§  1957 – Asahi Pentax memperkenalkan kamera SLRnya yang pertama.
§  1957 – Citra digital yang pertama dibuat dengan komputer oleh Russell Kirsch di U.S. National Bureau of Standards (sekarang bernama National Institute of Standards and Technology, NIST). [2]
§  1959 – Nikon F diperkenalkan.
§  1959 – AGFA memperkenalkan kamera otomatis yang pertama, Optima.
§  1963 – Kodak memperkenalkan Instamatic.
§  1964 – Kamera Pentax Spotmatic SLR diperkenalkan.
§  1973 – Fairchild Semiconductor memproduksi sensor CCD skala besar yang terdiri dari 100 baris dan 100 kolom.
§  1975 – Bryce Bayer dari Kodak mengembangkan pola mosaic filter Bayer untuk CCD color image sensor.
§  1986 – Ilmuwan Kodak menemukan sensor dengan kapasitas megapiksel yang pertama.
§  2005 – AgfaPhoto menyatakan bangkrut. Produksi film konsumen bermerk Agfa terhenti.
§  2006 – Dalsa membuat sensor CCD dengan kapasitas 111 megapixel, yang terbesar saat itu.
§  2008 – Polaroid mengumumkan penghentian semua produksi produk film instan berkaitan dengan semakin berkembangnya teknologi citra digital.
§  2009 - Kodak mengumumkan penghentian film Kodachrome

high speed


Pengertian

High Speed Photography adalah suatu teknik menangkap sebuah momen yang bergerak dengan sangat cepat. Teknik ini biasa digunakan oleh ilmuwan untuk kepentingan riset terutama di bidang fisika, kimia, metalurgi, dsb. Teknik HSP pada dasarnya memiliki dua unsur penting yaitu:
  • Kecepatan eksposure yang sangat tinggi. Pada HSP yang sebenernya, dibutuhkan kecepatan exposure lebih dari 1/10.000 bahkan sampai 1/100.000. Kecepatan exposure yang sangat tinggi tidak bias dilakukan oleh dengan menggunakan kamera DSLR biasa, dan hanya dapat dilakukan dengan menggunakan instrument khusus yang sangat canggih.
  • Moment exposure yang tepat. Ketepatan moment exposure merupakan kekuatan dari HSP. Untuk riset-riset saintifik moment exposure dapat dihitung dengan perhitungan yang rumit dan didukung alat-alat yang canggih.
Teknik HSP dengan menggunakan DSLR
Kecepatan exposure yang ada pada kamera DSLR yang paling canggih saat ini hanya sampai 1/8000. dengan kecepatan shutter ini penggunaan flash biasa tidak akan mampu mengimbangi kecepatan shutter yang sedemikian cepat. Apabila dipaksakan, maka akan tercipta bagian gambar yang gelap sebagian diakibatkan shutter unit sudah bergerak menutup kembali sebelum flash selesai menyala.
Oleh karena itu diperlukan trik khusus agar dapat menjawab kebutuhan dari unsure pertama HSP. Trik yang dapat digunakan adalah dengan memanfaatkan durasi nyala flash yang sangat cepat sebagai pengganti intrumen exposure yang super canggih. Bagaimana caranya:
 Caranya adalah dengan menggunakan mode BULB pada kamera DSLR untuk membuka rana kamera selama waktu exposure. Selama mengaktifkan mode BULB, ruangan harus dalam kondisi gelap total, karena apabila ada cahaya sedikit saja, teknik bulb ini akan gagal terdistorsi oleh cahaya tersebut. Eksposure dilakukan ketika flash menyala dengan dipicu pada moment yang diinginkan. Sehingga gambar yang terbentuk dari mode BULB adalah moment tertangkap ketika flash menyala.

Berikutnya adalah bagaimana menentukan moment yang tepat untuk menyalakan lampu flash?
Cara pertama dapat dengan memanfaatkan reflek panca indera, namun cara ini memiliki tingkat akurasi yang tidak dapat diandalkan. Oleh karena itu dapat dibantu dengan pemicu flash dengan menggunakan sensor moment. Unit ini berfungsi untuk memicu nyala lampu flash ketika sensor menangkap moment. Moment yang dimaksud dapat berupa suara, gerakan, cahaya, dsb.
Pemicu lampu flash dengan dilengkapi sensor suara akan bereaksi ketika ada suara misalkan suara benturan objek ketika membentur bidang jatuh. Sensor gerakan, ketika objek menangkap gerakan sebuah objek, dan seterusnya.

Contoh-contoh hasil karya HSP.
Contoh hasil karya pertama saya:


Karya orang lain diambil dari Flickr
Photo courtesy by jezm2000


Artikel selanjutnya akan membahas bagaimana membuat pemicu flash dengan sensor suara. 

DASAR FOTOGRAFI


7 Dasar-dasar fotografi

Fotografi adalah seni mengambil gambar dengan menggunakan kamera. Meskipun Anda menempatkan fotografi sebagai sebuah hobi dan tidak untuk ditekuni secara profesional, setidaknya Anda perlu memahami dasar-dasar tentang fotografi seperti yang dilansir dari eHow (23/06) berikut ini.
KomposisiKomposisi adalah pengaturan objek yang akan diambil gambarnya. Ada sebuah aturan bernamathe rule of thirds yang membuat Anda harus membayangkan bingkai persegi panjang menjadi sembilan bagian yang berukuran sama. Anda membutuhkan garis-garis vertikal dan horizontal bayangan kemudian mencoba untuk menyelaraskan objek utama agar komposisi tampak seimbang dan estetis.
TeksturTekstur merupakan kebutuhan sebuah foto yang membutuhkan kecermatan oleh si pengambil foto. Tekstur melibatkan foto berupa kompleksitas permukaan sepotong kayu atau kain bermotif yang seolah bisa disentuh setelah gambar diambil.
KedalamanKedalaman adalah penciptaan rasa tiga dimensi dalam sebuah foto. Kedalaman ini bisa diciptakan dengan mengatur fokus, pembingkaian dan sudut pandang. Fokus melibatkan banyak zoom pada beberapa objek tertentu, sehingga ia akan tampak begitu bening sementara sekelilingnya buram. Sementara pembingkaian melibatkan identifikasi objek yang tampak dekat, meskipun sebenarnya jauh.
GarisDi dalam sebuah foto, garis membimbing mata fotografer untuk memperhatikan sekitar objek, sehingga menghasilkan foto yang menarik. Misalnya, garis yang tidak sama bisa dianggap sebagai penyampaian suasana hati yang berbeda. Garis horizontal berarti stabilitas, vertikal adalah kekuasaan, kekuatan, dan pertumbuhan, sementara diagonal menyampaikan tindakan dan dinamisme.
CahayaCahaya adalah salah satu dasar yang harus benar-benar Anda pahami jika ingin memotret. Sebab fotografer harus tahu berapa banyaknya cahaya dan arah cahaya yang bisa mempengaruhi hasil foto. Arah datangnya cahaya merupakan esensi penting yang mengacu pada lokasi dan sumber asli cahaya untuk menentukan distribusi bayangan pada foto.
Pola dan bentukAda tiga jenis aspek yang mendukung pola dan bentuk, yaitu, ritme, simetri, dan segitiga. Ritme adalah bentuk foto yang diulang, kemudian simetri merupakan foto yang diambil dari dua sisi yang berbeda, sementara segitiga terbentuk dalam sebuah foto oleh sebuah garis diagonal. Adanya pola dan bentuk akan membuat foto tampak lebih menarik.
Titik pandangDasar memotret terakhir adalah titik pandang posisi foto diambil. Titik pandang yang berbeda antara fotografer dapat menghasilkan foto dan persepsi yang berbeda. Hasil foto dari titik pandang rendah berarti dominasi, kekuatan, dan otoritas. Sebaliknya, titik pandang tinggi menyampaikan kerentanan dan kelemahan.
Setelah memahami dengan baik dasar fotografi, Anda bisa terus belajar dengan semakin sering memotret berbagai objek menarik yang Anda temukan.