Kamis, 15 November 2012

Cara Kirim Tulisan Ke Majalah Bobo




Berikut adalah cara-cara untuk mengirimkan tulisan ke majalah Bobo. Ini adalah sebuah majalah/bacaan untuk anak yang isinya berupa tulisan tulisan untuk anak-anak. Dibawah ini adalah peryaratan yang saya copas dari Page Facebook.


Syarat Teknis Penulisan Naskah Cerita

1. Font: Arial
2. Ukuran font: 12
3. Jarak baris: 1,5
4. Banyak kata: 600 – 700 kata untuk cerita 2 halaman
    250 – 300 kata untuk cerita 1 halaman
5. Di bawah naskah cerita tersebut, cantumkan:

a. Nama lengkap
b. Alamat rumah
c. Nomor telepon rumah/kantor/ handphone
d. Nomor rekening beserta nama bank, dan nama lengkap pemegang rekening bank tersebut (seperti yang         tertera di buku bank)
6. Lampirkan biodata singkat yang berisi poin nomor 5, tempat tanggal lahir, riwayat pendidikan, dan
    pekerjaan.
7. Naskah berserta biodata bisa dikirimkan via pos, ke alamat:

Redaksi Majalah Bobo
Gedung Kompas Gramedia Majalah Lantai 4
Jalan Panjang No. 8A, Kebon Jeruk, Jakarta 11530


Syarat Umum Penulisan Naskah Cerita

1. Cerita harus asli, tidak menjiplak karya orang lain.
2. Cerita tidak mengandung unsur kekerasaan, pornografi, atau yang menyinggung SARA
    (suku, agama dan ras)
3. Tingkat kesulitan bahasa, kira-kira yang bisa dimengerti oleh anak kelas 4 SD.
4. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik.
5. Kata-kata berbahasa asing/daerah atau dialek tertentu, diketik dengan huruf italic.
6. Alur cerita dan permasalahan cocok untuk anak-anak usia SD.
7. Penulis yang naskahnya diterima, akan mendapat honor setelah ceritanya dimuat, dan kiriman majalah
    Bobo sebagai nomor bukti pemuatan cerpen.
8. Naskah yang tidak diterima, tidak akan dikembalikan. Diharapkan penulis menyimpan naskah asli.
9. Berhubung banyaknya naskah yang dikirim ke redaksi Majalah Bobo, maka waktu penantian pemuatan
    cerita bisa memakan waktu minimal 4 bulan.
10. Penulis yang ingin menarik kembali naskahnya untuk dikirim ke majalah lain, diharapkan
     pemberitahuannya terlebih dahulu ke redaksi Majalah Bobo, agar tidak terjadi pemuatan ganda.

Sekarang, pengiriman juga bisa dilakukan secara online, yaitu dengan mengirimkannya ke:naskahbobo@gramedia-majalah.com.

Cerita pendek anak dengan panjang yang di kirimkan adalah cerita dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak dengan panjang +/- 3 lembar A4, spasi 1.5, Times New Roman dan ukuran huruf 12. Boleh dongeng, boleh cerpen (kehidupan anak-anak sehari-hari).

Honor yang diberikan antara 200 ribu s/d 250 ribu. Biasanya kalau penulis pemula dapet yang 200 ribu itu , tapi kalau tulisan kamu sudah banyak yang dimuat di majalah itu maka honornya bisa 250 ribu per judul. (http://miraclepublish.blogspot.com

Tips Mudah Menembus Penerbit Majalah




Ilustrasi penerbit majalah
Saat ini, menjadi penulis lepas di penerbit majalah bukanlah profesi yang aneh dan dipandang sebelah mata lagi. Profesi ini memberikan penghasilan yang memadai juga nama tenar. Belum lagi, kepuasan karena telah membagikan pengalaman dan hasil pemikiran pada pembaca.
Tidak heran, profesi ini banyak dipilih orang dari berbagai kalangan. Mulai ibu rumah tangga, pelajar, mahasiswa, buruh migran, akademisi, dan lainnya. Menjadi penulis di penerbit majalah adalah profesi fleksibel. Seorang dokter dapat menjadi sastrawan seperti Taufik Ismail dan Ferdiriva Hamzah. Wartawan banyak yang menjadi penulis novel. Bahkan, Joni Ariadinata, sastrawan terkenal Indonesia dulunya adalah tukang becak. Sakti Wibowo dulunya buruh bangunan, sebelum menjadi penulis novel produktif.

Geliat Profesi Penulis

Menulis artikel opini, cerita pendek dan puisi menjadi pilihan banyak penulis beberapa penerbit majalah untuk eksis berkarya. Saat ini, penulis diberi banyak kemudahan karena berkembangnya media massa di Indonesia.
Majalah, koran dan tabloid terbit bak cendawan di musim hujan. Baik itu majalah lokal atau franchise majalah asing. Semakin banyak media massa terbit dalam banyak segmen, anak-anak, remaja, dewasa, ibu-ibu, pehobi, dan lainnya. Belum lagi, media seperti internet yang merajalela.
Semakin banyak pilihan bagi para penulis untuk mengirimkan karyanya ke media massa. Jika Anda seorang penulis tinggal memilih penerbit majalah atau tabloid apa yang cocok untuk cerpen yang Anda tulis. Banyak penulis yang sibuk mencari daftar alamat redaksi penerbit majalah agar ia bisa mengirimkan karyanya ke mana saja tanpa tahu karakteristik media tersebut.

Cara Jitu Menembuskan Tulisan

Ada cara jitu agar karya Anda punya kans lebih besar untuk dimuat. Anda harus melakukan survei kecil-kecilan terlebih dahulu. Tidak sekadar tahu majalahnya sekilas. Oh, ini majalah wanita, ini majalah remaja.
Kenali baik-baik segmennya. Walaupun sama-sama majalah wanita, majalahFemina dan majalah Paras memiliki segmen yang berbeda. Inilah yang harus Anda kenali sebelum mengirimkan karya.
Oleh karena itu, sebelum mengirimkan cerita Anda, sebaiknya kenali dulu penerbit majalah tersebut. Anda bisa membeli majalah itu dan membaca isinya dengan saksama. Apa segmen pembacanya? Ini majalah wanita yang bagaimana? Apakah ibu rumah tangga? Wanita karier? Cocokkah naskah Anda dimuat di sana?
Setelah itu, Anda dapat mengirimkan karya ke penanggung jawab rubrik atau redaksi penerbit majalah tersebut. Anda dapat mencari tahu siapa editor atau redaksi majalah tersebut.
Caranya, membaca susunan redaksi di media tersebut atau mencari informasi lewat internet. Biasanya, majalah atau media massa lain memiliki hubungan erat dengan para pembacanya melalui milis, forum, atau fans page difacebook. Anda dapat menggali informasi dari situ. Sebaiknya, Anda berkenalan dengan editor atau anggota redaksi agar komunikasi lebih lancar sehingga lebih mudah mengirimkan naskah Anda.
Untuk menembus penerbit majalah besar seperti majalah Bobo, Intisari, Gadis, biasanya para penulis memiliki berbagai trik karena redaksi majalah terkenal ini mendapatkan ratusan naskah setiap hari melalui email atau pos.
Seorang teman memiliki kebiasaan mengantarkan langsung naskahnya ke majalah agar ia dapat berkenalan dengan editor dan berbincang-bincang tentang naskah yang redaksi cari, dengan catatan mereka sedang tidak sibuk. Ada juga yang memasukkan naskahnya ke amplop unik agar redaksi tertarik membaca duluan naskahnya.
Namun, bagaimanapun caranya, naskah Anda harus tetap berkualitas agar bisa bersaing dengan naskah lain. Untuk itu, cari ide yang unik dan tidak pasaran agar menarik perhatian redaksi. Ide yang biasa dan klise tidak mengundang minat editor untuk membaca dan dengan cepat disingkirkan. Oleh karena itu, naskah Anda harus menarik sejak judul dan awal tulisan. Bagaimana agar tulisan keren?Tentu saja dengan cara banyak membaca tulisan penulis senior dan berlatih menulis sebanyak-banyaknya.

Biar Tulisan Tak Rawan Ditolak

Banyak penulis pemula ketika menulis langsung tancap gas efek membaca buku tentang kepenulisan. Dengan mengamini pernyataan, “menulis, menulis, dan menulis” Setelah mereka menulis lalu mengirimkannya ke penerbit majalah yang ditujunya. Jika punya sikap cuek, mau tulisan dimuat atau tidak, yang penting tulisan sudah dikirim, maka saran yang diungkapkan para penulis buku kepenulisan tentu saja tepat.
Namun berbeda bagi Anda yang ingin menjadi profesi menulis sebagai profesi utama. Anda tentunya ingin mendapatkan hasil yang cepat, tapi berkualitas. Orang bilang ini cara berpikir ini keliru. Mana ada yang bisa menjadi penulis secara instan. Benar, memang proses menulis yang cepat, tapi berkualitas bukanlah proses menjadi penulis yang dalam hitungan jam sudah bisa menulis yang bakal dilirik redaktur penerbit majalah.
Akan tetapi, proses menulis yang cepat, tapi berkualitas yang dimaksud adalah menulis dengan hanya membutuhkan waktu dua minggu, maka tulisan Anda bakal dilirik redaktur penerbit majalah. Anda tak perlu membuang energi menulis setiap bulan mengirimkan tulisan, lima bulan ke depan baru dimuat. Namun dengan proses belajar dua minggu saja, Anda bisa melihat tulisan Anda bakal dimuat di bulan depan atau dua bulan kemudian. Anda tertarik ingin mengetahui caranya. Ada tiga langkah yang mesti Anda lakukan.
  • Menulis dulu
Anda mesti belajar menulis dari tulisan yang terbit di penerbit majalah yang bakal Anda kirimkan tulisan. Tentu saja, Anda sudah memiliki kumpulan majalah dari penerbitan tersebut. Anda coba kumpulkan tujuh majalah. Lalu pilih jenis tulisan mana yang ingin Anda geluti. Katakan saja Anda ingin menulis rubrik resensi.
Maka langkah awal yang mesti Anda lakukan adalah Anda tulis ulang tujuh tulisan resensi yang terdapat di dalam kumpulan majalah tersebut. Mungkin Anda bakal berfikir cukup melalahkan sekali. Tepat. Anda tidak salah. Cara ini memang capek atau melalahkan, tapi Anda keuntungan yang bakal Anda dapatkan.
Keuntungan pertama, Anda jadi tahu berapa karakter kata yang dibutuhkan agar tulisan Anda layak dimuat. Anda menjadi tahu timbangan kata yang digunakan agar tulisan Anda dimuat di majalah tersebut. Dan Anda pun menjadi tahu bagaimana cara merangsang redaktur hingga tertarik melihat tulisan tersebut.
  • Menulis Lagi
Setelah Anda melakukan proses menulis lagi selama seminggu. Coba cari lagi tulisan artikel resensi sebanyak tujuh artikel lagi dari majalah tersebut. Anda coba tuliskan ulang kembali, lalu masukkan sedikit pendapat Anda dalam tulisan tersebut. Atau, jika Anda merasa ada yang kurang menarik katanya, Anda bisa menggantikannya.
Mungkin Anda mengatakan, ini sangat melelahkan juga. Tepat. Anda betul sekali. Ini masih tahap belajar yang menyulitkan. Namun ada manfaatnya untuk Anda. Di sini, Anda belajar mengungkapkan gagasan. Di sini Anda dilatih keberanian untuk mengubah dan menambahi data tentang artikel resensi buku tersebut. Apalagi, jika Anda membaca buku tersebut atau melakukan cara perbandingan dengan buku yang lainnya.
  • Menulis Terus
Setelah Anda berlatih menulis dengan menggunakan artikel yang dimuat di penerbit majalah tersebut kini saatnya Anda mencoba menuliskan artikel resensi Anda sendiri. Karena Anda sudah memahami bagaimana  membuatlead, body dan ending artikel resensi, tentunya Anda sudah tidak ‘kagok’ lagi. Tidak bingung lagi bagaimana memulai tulisan. Tidak bingung lagi bagaimana mengembangkan tulisan. Tidak bingung lagi bagaimana mengakhiri tulisan.
Anda cukup melihat dari empat belas artikel resensi tulisan yang sudah Anda pelajari dengan ketik ulang, maka Anda pasti tahu bagaimana kalimat pembuka atau lead tulisan yang menarik. Jika Anda mentok dalam pengembangan tulisan resensi, Anda bisa melihat cara pengembangan tulisan resensi dari hasil pembelajaran yang Anda lakukan selama empat hari.
Tentu saja, dalam menutup atau ending artikel, Anda pastinya sudah bisa melakukannya. Benar. Jika tak tahu bagaimana menutup artikel resensi tersebut, Anda bisa meniru caranya dari empat belas artikel yang sudah Anda pelajari dalam dua minggu.
Bila sudah rampung dan Anda edit tulisannya, maka dapat kirimkan ke penerbit media yang Anda tuju. Kemudian teruslah menulis artikel resensi buku lagi. Lakukan dengan langkah yang sama. Percayalah, dengan pembelajaran yang Anda lakukan selama empat belas hari akan cepat membuat tulisan Anda dilirik redaktur penerbit majalah dan tulisan Anda pun layak muat.
Setelah ini, Anda menulis resensi buku dan bisa mengirimkan ke penerbit majalah atau penerbit koran. Pasalnya, ilmu utamanya sudah Anda miliki. Jika terjadi kendala dalam masalah pemuatan, mungkin saja karakter kata tulisan Anda kurang atau melebihi. Atau ada kualitas artikel resensi buku lainnya lebih baik dari artikel Anda.


sumber : http://www.anneahira.com

Senin, 12 November 2012

Sejarah singkat fotografi


Sejarah Singkat Fotografi


Berawal oleh MoTi seorang ilmuan Cina yang pada abad 5 Sebelum Masehi menemukan konsep pinhole (lubang kecil) yang mana ketika dia melakukan observasi terhadap sinar yang memancar dari suatu objek dan melalui sebuah lubang kecil maka akan menghasilkan bayangan dari benda tadi dalam bentuk yang sama dengan aslinya dan terbalik.

Giovanni Battist della Porta seorang ilmuwan Napoli pada 1558 menulis sebuah buku yang dianggap sebagai penemu camera obscura dan untuk pertama kalinya camera obscura digunakan sebagai alat bantu untuk menggambar. 31 tahun kemudian pada 1589 camera obscura terus disempurnakan dan digunakan untuk membantu melukis potret. Selama abad 18 penggunaan camera obscura diperkenalkan oleh kaum terpelajar dan kamera ini mulai diproduksi baik dalam ukuran besar maupun lebih kecil (kamera saku).

Joseph Nicephore dan Claude Niepce pada 1798 mempelopori percobaan-percobaan untuk menghasilkan rekaman bayangan daricamera obscura secara kimiawi. Hal ini mengawali usaha percobaan dalam fotografi, yaitu usaha untuk menghasilkan rekaman bayangan secara tetap. Nicephore Niepce pada tahun 1826 membuat karya foto pertama di dunia yaitu pemandangan yang terlihat dari jendela kamar kerjanya dengan waktu penyinaran sekitar 8 jam di musim panas dengan bahan lembaran penter (campuran timah hitam dengan timah putih). Hal ini sekaligus mengawali era fotografi di atas logam.





Karya foto pertama oleh Nicephore NiepceKarya foto permanen pertama, waktu penyinaran 8 jam, merupakan foto pemandangan yang diambil dari jendela kerjanya. Foto ini merupakan awal dimulainya fotografi dengan media rekam permanen. Sehingga camera obscura bukan sekedar alat bantu melukis atau yang lainnya, tetapi sudah sebagai media perekam. 


Fotografi di atas film dipelopori oleh Alexander Parker yang pada 1861 menemukan bahan seluloid. Kemudian George Eastman pada 1889-1900 memproduksi roll film dari bahan nitro seluloid yang sangat tipis dengan merk Kodak dan dimulailah masa fotografi diatas film. Kodak juga memperkenalkan kamera Easy-to-use yang pertama pada 1888. Edwin H. Land pada 1948 memperkenalkan kamera instant yang pertama dengan merk Polaroid. Lalu Russell Kirsch di U.S. National Bureau of Standards (sekarang NIST – National Institute of Standard and Technology) pada 1957 membuat citra digital yang pertama di computer. Di tahun yang sama, Asahi Pentax mengeluarkan kamera SLR-nya yang pertama.

Fairchild Semiconductor pada 1973 memproduksi CCD dalam skala besar yang terdiri dari 100 baris dan 100 kolom. Ilmuan Kodak pada 1986 menemukan sensor dengan kapasitas megapiksel yang pertama. Inilah awal dari era digital yang selanjutnya berkembang sangat pesat hingga sekarang

sejarah fotografi


Sejarah Fotografi dimulai pada abad ke-19. Tahun 1839 merupakan tahun awal kelahiran fotografi. Pada tahun itu, di Perancis dinyatakan secara resmi bahwa fotografi adalah sebuah terobosan teknologi. Saat itu, rekaman dua dimensi seperti yang dilihat mata sudah bisa dibuat permanen.
Sejarah fotografi bermula jauh sebelum Masehi. Pada abad ke-5 Sebelum Masehi (SM), seorang pria bernama Mo Ti mengamati suatu gejala. Jika pada dinding ruangan yang gelap terdapat lubang kecil (pinhole), maka di bagian dalam ruang itu akan terefleksikan pemandangan di luar ruang secara terbalik lewat lubang tadi. Mo Ti adalah orang pertama yang menyadari fenomena camera obscura. (The History of Photography karya Alma Davenport, terbitan University of New Mexico Press tahun 1991)
Berabad-abad kemudian, banyak yang menyadari dan mengagumi fenomena ini, sebut saja Aristoteles pada abad ke-3 SM dan seorang ilmuwan Arab Ibnu Al Haitam (Al Hazen) pada abad ke-10 SM, yang berusaha untuk menciptakan serta mengembangkan alat yang sekarang dikenal sebagai kamera. Pada tahun 1558, seorang ilmuwan Italia, Giambattista della Porta menyebut ”camera obscura” pada sebuah kotak yang membantu pelukis menangkap bayangan gambar (Bachtiar: 10).
Menurut Szarkowski dalam Hartoyo (2004: 21), nama camera obscura diciptakan oleh Johannes Kepler pada tahun 1611. “Johannes Keppler membuat desain kamera portable yang dibuat seperti sebuah tenda, dan memberi nama alat tersebut: camera obscura. Didalam tenda sangat gelap kecuali sedikit cahaya yang ditangkap oleh lensa, yang membentuk gambar keadaan di luar tenda di atas selembar kertas”.
Berbagai penelitian dilakukan mulai pada awal abad ke-17 ,seorang ilmuwan berkebangsaan Italia – Angelo Sala menggunakan cahaya matahari untuk merekam serangkaian kata pada pelat chloride perak. Tapi ia gagal mempertahankan gambar secara permanen. Sekitar tahun 1800, Thomas Wedgwood, seorang berkebangsaan Inggris bereksperimen untuk merekam gambar positif dari citra pada camera obscura berlensa, hasilnya sangat mengecewakan. Humphrey Davy melakukan percobaan lebih lanjut dengan chlorida perak, tapi bernasib sama juga walaupun sudah berhasil menangkap imaji melalui camera obscura tanpa lensa.
Akhirnya, pada tahun 1824, seorang seniman lithography Perancis, Joseph-Nicephore Niepce(1765-1833), setelah delapan jam meng-exposed pemandangan dari jendela kamarnya, melalui proses yang disebutnya Heliogravure (proses kerjanya mirip lithograph) di atas pelat logam yang dilapisi aspal, berhasil melahirkan sebuah imaji yang agak kabur, berhasil pula mempertahankan gambar secara permanent. Ia melanjutkan percobaannya hingga padatahun 1826 inilah yang akhirnya menjadi sejarah awal fotografi yang sebenarnya. Foto yang dihasilkan itu kini disimpan di University of Texas di Austin, AS.
Penelitian demi penelitian terus berlanjut hingga pata tanggal tanggal 19 Agustus 1839, desainer panggung opera yang juga pelukis, Louis-Jacques Mande’ Daguerre (1787-1851) dinobatkan sebagai orang pertama yang berhasil membuat foto yang sebenarnya: sebuah gambar permanen pada lembaran plat tembaga perak yang dilapisi larutan iodin yang disinari selama satu setengah jam cahaya langsung dengan pemanas mercuri (neon). Proses ini disebut daguerreotype. Untuk membuat gambar permanen, pelat dicuci larutan garam dapur dan asir suling. Januari 1839, Daguerre sebenarnya ingin mematenkan temuannya itu. Akan tetapi, Pemerintah Perancis berpikir bahwa temuan itu sebaiknya dibagikan ke seluruh dunia secara cuma-cuma.
Fotografi kemudian berkembang dengan sangat cepat. Melalui perusahaan Kodak Eastman, George Eastman mengembangkan fotografi dengan menciptakan serta menjual roll film dan kamera boks yang praktis, sejalan dengan perkembangan dalam dunia fotografi melalui perbaikan lensa,shutter, film dan kertas foto.
Tahun 1950, untuk memudahkan pembidikan pada kamera Single Lens Reflex maka mulailah digunakan prisma (SLR), dan Jepang pun mulai memasuki dunia fotografi dengan produksi kamera NIKON. Tahun 1972 kamera Polaroid temuan Edwin Land mulai dipasarkan. Kamera Polaroid mampu menghasilkan gambar tanpa melalui proses pengembangan dan pencetakan film.
Kemajuan teknologi turut memacu fotografi secara sangat cepat. Kalau dulu kamera sebesar tenda hanya bisa menghasilkan gambar yang tidak terlalu tajam, kini kamera digital yang cuma sebesar dompet mampu membuat foto yang sangat tajam dalam ukuran sebesar koran.

SEJARAH FOTO GRAFI


Kronologi perkembangan fotografi dimulai dengan:
§  1822 – Joseph Nicéphore Niépce membuat foto Heliografi yang pertama dengan subyek Paus Pius VII, menggunakan proses heliografik. Salah satu foto yang bertahan hingga sekarang dibuat pada tahun 1825.[1]
§  1826 – Joseph Nicéphore Niépce membuat foto pemandangan yang pertama,yang dibuat dengan pajanan selama 8 jam.
§  1835 – William Henry Fox Talbot menemukan proses fotografi yang baru.
§  1839 – Louis Daguerre mematenkan daguerreotype.
§  1839 – William Henry Fox Talbot menemukan proses positif/negatif yang disebut Tabotype.
§  1839 – John Herschel menemukan film negatif dengan larutan Sodium thiosulfate/hyposulfite of soda yang disebut hypo atau fixer.
§  1851 – Frederick Scott Archer memperkenalkan proses koloid.
§  1854 – André Adolphe Eugène Disdéri memperkenalkan rotating camera yang dapat merekam 8 citra berbeda dalam satu film. Setelah hasilnya dicetak di atas kertas albumen, citra tersebut dipotong menjadi 8 bagian terpisah dan direkatkan pada lembaran kartu. Kartu ini menjadi inspirasi penyebutan (fr:carte de visite, bahasa Inggris:visiting card)
§  1861 – Foto berwarna yang pertama diperkenalkan James Clerk Maxwell.
§  1868 – Louis Ducos du Hauron mematenkan metode subtractive color photography.
§  1871 – Richard Maddox menemukan film fotografis dari emulsi gelatin.
§  1876 – F. Hurter & V. C. Driffield memulai evaluasi sistematis pada kepekaan emulsi fotografis yang kemudian dikenal dengan istilah sensitometri.
§  1878 – Eadweard Muybridge membuat sebuah foto high-speed photographic dari seekor kuda yang berlari.
§  1887 – Film Seluloid yang pertama diperkenalkan.
§  1888 – Kodak memasarkan box camera n°1, kamera easy-to-use yang pertama.
§  1887 – Gabriel Lippmann menemukan reproduksi warna pada foto.
§  1891 – Thomas Alva Edison mematenkan kamera kinetoskopis (motion pictures).
§  1895 – Auguste and Louis Lumière menemukan cinématographe.
§  1898 – Kodak memperkenalkan produk kamera folding Pocket Kodak.
§  1900 – Kodak memperkenalkan produk kamera Brownie.
§  1901 – Kodak memperkenalkan 120 film.
§  1902 – Arthur Korn membuat teknologi phototelegraphy;; yang mengubah citra menjadi sinyal yang dapat ditransmisikan melalui kabel. Wire-Photosdigunakan luas di daratan Eropa pada tahun 1910 dan transmisi antarbenua dimulai sejak 1922.
§  1907 – Autochrome Lumière merupakan pemasaran proses fotografi berwarna yang pertama.
§  1912 – Vest Pocket Kodak menggunakan 127 film.
§  1913 – Kinemacolor, sebuah sistem "natural color" untuk penayangan komersial, ditemukan.
§  1914 – Kodak memperkenalkan sistem autographic film.
§  1920s – Yasujiro Niwa menemukan peralatan untuk transmisi phototelegraphic melalui gelombang radio.
§  1923 – Doc Harold Edgerton menemukan xenon flash lamp dan strobe photography.
§  1925 – Leica memperkenalkan format film 35mm pada still photography.
§  1932 – Tayangan berwarna pertama dari Technicolor bertajuk Flowers and Trees dibuat oleh Disney.
§  1934 – Kartrid film 135 diperkenalkan, membuat kamera 35mm mudah digunakan.
§  1936 – IHAGEE membuat Ihagee Kine Exakta 1. Kamera SLR 35mm yang pertama.
§  1936 – Kodachrome mengembangkan multi-layered reversal color film yang pertama.
§  1937 – Agfacolor-Neu mengembangkan reversal color film.
§  1939 – Agfacolor membuat "print" film modern yang pertama dengan materi warna positif/negatif.
§  1939 – View-Master memperkenalkan kamera stereo viewer.
§  1942 – Kodacolor memasarkan "print" film Kodak yang pertama.
§  1947 – Dennis Gabor menemukan holography.
§  1947 – Harold Edgerton mengembangkan rapatronic camera untuk pemerintah Amerika Serikat.
§  1948 – Kamera Hasselblad mulai dipasarkan.
§  1948 – Edwin H. Land membuat kamera instan yang pertama dengan merk Polaroid.
§  1952 – Era 3-D film dimulai.
§  1954 – Leica M diperkenalkan.
§  1957 – Asahi Pentax memperkenalkan kamera SLRnya yang pertama.
§  1957 – Citra digital yang pertama dibuat dengan komputer oleh Russell Kirsch di U.S. National Bureau of Standards (sekarang bernama National Institute of Standards and Technology, NIST). [2]
§  1959 – Nikon F diperkenalkan.
§  1959 – AGFA memperkenalkan kamera otomatis yang pertama, Optima.
§  1963 – Kodak memperkenalkan Instamatic.
§  1964 – Kamera Pentax Spotmatic SLR diperkenalkan.
§  1973 – Fairchild Semiconductor memproduksi sensor CCD skala besar yang terdiri dari 100 baris dan 100 kolom.
§  1975 – Bryce Bayer dari Kodak mengembangkan pola mosaic filter Bayer untuk CCD color image sensor.
§  1986 – Ilmuwan Kodak menemukan sensor dengan kapasitas megapiksel yang pertama.
§  2005 – AgfaPhoto menyatakan bangkrut. Produksi film konsumen bermerk Agfa terhenti.
§  2006 – Dalsa membuat sensor CCD dengan kapasitas 111 megapixel, yang terbesar saat itu.
§  2008 – Polaroid mengumumkan penghentian semua produksi produk film instan berkaitan dengan semakin berkembangnya teknologi citra digital.
§  2009 - Kodak mengumumkan penghentian film Kodachrome