Senin, 12 November 2012

SEJARAH FOTO GRAFI


Kronologi perkembangan fotografi dimulai dengan:
§  1822 – Joseph Nicéphore Niépce membuat foto Heliografi yang pertama dengan subyek Paus Pius VII, menggunakan proses heliografik. Salah satu foto yang bertahan hingga sekarang dibuat pada tahun 1825.[1]
§  1826 – Joseph Nicéphore Niépce membuat foto pemandangan yang pertama,yang dibuat dengan pajanan selama 8 jam.
§  1835 – William Henry Fox Talbot menemukan proses fotografi yang baru.
§  1839 – Louis Daguerre mematenkan daguerreotype.
§  1839 – William Henry Fox Talbot menemukan proses positif/negatif yang disebut Tabotype.
§  1839 – John Herschel menemukan film negatif dengan larutan Sodium thiosulfate/hyposulfite of soda yang disebut hypo atau fixer.
§  1851 – Frederick Scott Archer memperkenalkan proses koloid.
§  1854 – André Adolphe Eugène Disdéri memperkenalkan rotating camera yang dapat merekam 8 citra berbeda dalam satu film. Setelah hasilnya dicetak di atas kertas albumen, citra tersebut dipotong menjadi 8 bagian terpisah dan direkatkan pada lembaran kartu. Kartu ini menjadi inspirasi penyebutan (fr:carte de visite, bahasa Inggris:visiting card)
§  1861 – Foto berwarna yang pertama diperkenalkan James Clerk Maxwell.
§  1868 – Louis Ducos du Hauron mematenkan metode subtractive color photography.
§  1871 – Richard Maddox menemukan film fotografis dari emulsi gelatin.
§  1876 – F. Hurter & V. C. Driffield memulai evaluasi sistematis pada kepekaan emulsi fotografis yang kemudian dikenal dengan istilah sensitometri.
§  1878 – Eadweard Muybridge membuat sebuah foto high-speed photographic dari seekor kuda yang berlari.
§  1887 – Film Seluloid yang pertama diperkenalkan.
§  1888 – Kodak memasarkan box camera n°1, kamera easy-to-use yang pertama.
§  1887 – Gabriel Lippmann menemukan reproduksi warna pada foto.
§  1891 – Thomas Alva Edison mematenkan kamera kinetoskopis (motion pictures).
§  1895 – Auguste and Louis Lumière menemukan cinématographe.
§  1898 – Kodak memperkenalkan produk kamera folding Pocket Kodak.
§  1900 – Kodak memperkenalkan produk kamera Brownie.
§  1901 – Kodak memperkenalkan 120 film.
§  1902 – Arthur Korn membuat teknologi phototelegraphy;; yang mengubah citra menjadi sinyal yang dapat ditransmisikan melalui kabel. Wire-Photosdigunakan luas di daratan Eropa pada tahun 1910 dan transmisi antarbenua dimulai sejak 1922.
§  1907 – Autochrome Lumière merupakan pemasaran proses fotografi berwarna yang pertama.
§  1912 – Vest Pocket Kodak menggunakan 127 film.
§  1913 – Kinemacolor, sebuah sistem "natural color" untuk penayangan komersial, ditemukan.
§  1914 – Kodak memperkenalkan sistem autographic film.
§  1920s – Yasujiro Niwa menemukan peralatan untuk transmisi phototelegraphic melalui gelombang radio.
§  1923 – Doc Harold Edgerton menemukan xenon flash lamp dan strobe photography.
§  1925 – Leica memperkenalkan format film 35mm pada still photography.
§  1932 – Tayangan berwarna pertama dari Technicolor bertajuk Flowers and Trees dibuat oleh Disney.
§  1934 – Kartrid film 135 diperkenalkan, membuat kamera 35mm mudah digunakan.
§  1936 – IHAGEE membuat Ihagee Kine Exakta 1. Kamera SLR 35mm yang pertama.
§  1936 – Kodachrome mengembangkan multi-layered reversal color film yang pertama.
§  1937 – Agfacolor-Neu mengembangkan reversal color film.
§  1939 – Agfacolor membuat "print" film modern yang pertama dengan materi warna positif/negatif.
§  1939 – View-Master memperkenalkan kamera stereo viewer.
§  1942 – Kodacolor memasarkan "print" film Kodak yang pertama.
§  1947 – Dennis Gabor menemukan holography.
§  1947 – Harold Edgerton mengembangkan rapatronic camera untuk pemerintah Amerika Serikat.
§  1948 – Kamera Hasselblad mulai dipasarkan.
§  1948 – Edwin H. Land membuat kamera instan yang pertama dengan merk Polaroid.
§  1952 – Era 3-D film dimulai.
§  1954 – Leica M diperkenalkan.
§  1957 – Asahi Pentax memperkenalkan kamera SLRnya yang pertama.
§  1957 – Citra digital yang pertama dibuat dengan komputer oleh Russell Kirsch di U.S. National Bureau of Standards (sekarang bernama National Institute of Standards and Technology, NIST). [2]
§  1959 – Nikon F diperkenalkan.
§  1959 – AGFA memperkenalkan kamera otomatis yang pertama, Optima.
§  1963 – Kodak memperkenalkan Instamatic.
§  1964 – Kamera Pentax Spotmatic SLR diperkenalkan.
§  1973 – Fairchild Semiconductor memproduksi sensor CCD skala besar yang terdiri dari 100 baris dan 100 kolom.
§  1975 – Bryce Bayer dari Kodak mengembangkan pola mosaic filter Bayer untuk CCD color image sensor.
§  1986 – Ilmuwan Kodak menemukan sensor dengan kapasitas megapiksel yang pertama.
§  2005 – AgfaPhoto menyatakan bangkrut. Produksi film konsumen bermerk Agfa terhenti.
§  2006 – Dalsa membuat sensor CCD dengan kapasitas 111 megapixel, yang terbesar saat itu.
§  2008 – Polaroid mengumumkan penghentian semua produksi produk film instan berkaitan dengan semakin berkembangnya teknologi citra digital.
§  2009 - Kodak mengumumkan penghentian film Kodachrome

high speed


Pengertian

High Speed Photography adalah suatu teknik menangkap sebuah momen yang bergerak dengan sangat cepat. Teknik ini biasa digunakan oleh ilmuwan untuk kepentingan riset terutama di bidang fisika, kimia, metalurgi, dsb. Teknik HSP pada dasarnya memiliki dua unsur penting yaitu:
  • Kecepatan eksposure yang sangat tinggi. Pada HSP yang sebenernya, dibutuhkan kecepatan exposure lebih dari 1/10.000 bahkan sampai 1/100.000. Kecepatan exposure yang sangat tinggi tidak bias dilakukan oleh dengan menggunakan kamera DSLR biasa, dan hanya dapat dilakukan dengan menggunakan instrument khusus yang sangat canggih.
  • Moment exposure yang tepat. Ketepatan moment exposure merupakan kekuatan dari HSP. Untuk riset-riset saintifik moment exposure dapat dihitung dengan perhitungan yang rumit dan didukung alat-alat yang canggih.
Teknik HSP dengan menggunakan DSLR
Kecepatan exposure yang ada pada kamera DSLR yang paling canggih saat ini hanya sampai 1/8000. dengan kecepatan shutter ini penggunaan flash biasa tidak akan mampu mengimbangi kecepatan shutter yang sedemikian cepat. Apabila dipaksakan, maka akan tercipta bagian gambar yang gelap sebagian diakibatkan shutter unit sudah bergerak menutup kembali sebelum flash selesai menyala.
Oleh karena itu diperlukan trik khusus agar dapat menjawab kebutuhan dari unsure pertama HSP. Trik yang dapat digunakan adalah dengan memanfaatkan durasi nyala flash yang sangat cepat sebagai pengganti intrumen exposure yang super canggih. Bagaimana caranya:
 Caranya adalah dengan menggunakan mode BULB pada kamera DSLR untuk membuka rana kamera selama waktu exposure. Selama mengaktifkan mode BULB, ruangan harus dalam kondisi gelap total, karena apabila ada cahaya sedikit saja, teknik bulb ini akan gagal terdistorsi oleh cahaya tersebut. Eksposure dilakukan ketika flash menyala dengan dipicu pada moment yang diinginkan. Sehingga gambar yang terbentuk dari mode BULB adalah moment tertangkap ketika flash menyala.

Berikutnya adalah bagaimana menentukan moment yang tepat untuk menyalakan lampu flash?
Cara pertama dapat dengan memanfaatkan reflek panca indera, namun cara ini memiliki tingkat akurasi yang tidak dapat diandalkan. Oleh karena itu dapat dibantu dengan pemicu flash dengan menggunakan sensor moment. Unit ini berfungsi untuk memicu nyala lampu flash ketika sensor menangkap moment. Moment yang dimaksud dapat berupa suara, gerakan, cahaya, dsb.
Pemicu lampu flash dengan dilengkapi sensor suara akan bereaksi ketika ada suara misalkan suara benturan objek ketika membentur bidang jatuh. Sensor gerakan, ketika objek menangkap gerakan sebuah objek, dan seterusnya.

Contoh-contoh hasil karya HSP.
Contoh hasil karya pertama saya:


Karya orang lain diambil dari Flickr
Photo courtesy by jezm2000


Artikel selanjutnya akan membahas bagaimana membuat pemicu flash dengan sensor suara. 

DASAR FOTOGRAFI


7 Dasar-dasar fotografi

Fotografi adalah seni mengambil gambar dengan menggunakan kamera. Meskipun Anda menempatkan fotografi sebagai sebuah hobi dan tidak untuk ditekuni secara profesional, setidaknya Anda perlu memahami dasar-dasar tentang fotografi seperti yang dilansir dari eHow (23/06) berikut ini.
KomposisiKomposisi adalah pengaturan objek yang akan diambil gambarnya. Ada sebuah aturan bernamathe rule of thirds yang membuat Anda harus membayangkan bingkai persegi panjang menjadi sembilan bagian yang berukuran sama. Anda membutuhkan garis-garis vertikal dan horizontal bayangan kemudian mencoba untuk menyelaraskan objek utama agar komposisi tampak seimbang dan estetis.
TeksturTekstur merupakan kebutuhan sebuah foto yang membutuhkan kecermatan oleh si pengambil foto. Tekstur melibatkan foto berupa kompleksitas permukaan sepotong kayu atau kain bermotif yang seolah bisa disentuh setelah gambar diambil.
KedalamanKedalaman adalah penciptaan rasa tiga dimensi dalam sebuah foto. Kedalaman ini bisa diciptakan dengan mengatur fokus, pembingkaian dan sudut pandang. Fokus melibatkan banyak zoom pada beberapa objek tertentu, sehingga ia akan tampak begitu bening sementara sekelilingnya buram. Sementara pembingkaian melibatkan identifikasi objek yang tampak dekat, meskipun sebenarnya jauh.
GarisDi dalam sebuah foto, garis membimbing mata fotografer untuk memperhatikan sekitar objek, sehingga menghasilkan foto yang menarik. Misalnya, garis yang tidak sama bisa dianggap sebagai penyampaian suasana hati yang berbeda. Garis horizontal berarti stabilitas, vertikal adalah kekuasaan, kekuatan, dan pertumbuhan, sementara diagonal menyampaikan tindakan dan dinamisme.
CahayaCahaya adalah salah satu dasar yang harus benar-benar Anda pahami jika ingin memotret. Sebab fotografer harus tahu berapa banyaknya cahaya dan arah cahaya yang bisa mempengaruhi hasil foto. Arah datangnya cahaya merupakan esensi penting yang mengacu pada lokasi dan sumber asli cahaya untuk menentukan distribusi bayangan pada foto.
Pola dan bentukAda tiga jenis aspek yang mendukung pola dan bentuk, yaitu, ritme, simetri, dan segitiga. Ritme adalah bentuk foto yang diulang, kemudian simetri merupakan foto yang diambil dari dua sisi yang berbeda, sementara segitiga terbentuk dalam sebuah foto oleh sebuah garis diagonal. Adanya pola dan bentuk akan membuat foto tampak lebih menarik.
Titik pandangDasar memotret terakhir adalah titik pandang posisi foto diambil. Titik pandang yang berbeda antara fotografer dapat menghasilkan foto dan persepsi yang berbeda. Hasil foto dari titik pandang rendah berarti dominasi, kekuatan, dan otoritas. Sebaliknya, titik pandang tinggi menyampaikan kerentanan dan kelemahan.
Setelah memahami dengan baik dasar fotografi, Anda bisa terus belajar dengan semakin sering memotret berbagai objek menarik yang Anda temukan.

Senin, 22 Oktober 2012

FOTOGRAPHY


TENTANG FOTOGRAFI
(Sebuah Rangkuman)
Sejarah Singkat
Fotografi (-lebih kepada prinsip dasar fotografi~cahaya~-) disadari oleh seorang abdi kerajaan Yunani Kuno yang bernama Moti (Abad 5 SM). Dia menemukan bias terbalik dari sebuah cahaya yang masuk menembus celah dalam suatu ruang yang gelap.
Setelah melalui beberapa zaman, Ilmuwan Islam Ibnu Haitam mencobanya dalam eksperimen yang kemudian terkenal dengan istilah kamera lubang jarum, yaitu mengabadikan pantulan cahaya kedalam sebuah media yang peka terhadap cahaya (pada saat itu hanya perekaman teleskopik mata yang belum sempurna seperti foto saat ini). Ibnu Haitam menulis pengalamannya itu dalam sebuah buku yang berjudul Al Manazir ( The Books of Optics). Di kemudian hari, buku itulah yang menjadi referensi tokoh tokoh besar seperti Galileo Galilei, Isaac Newton, Rene Descartes dan lain lain.
Fotografi kontemporer diawali oleh Joseph Nicephore Niepce (1826) yang menggunakan teknik foto Heliograph(mengabadikan titik-titik  cahaya yang masuk ke dalam media rekam, yang kemudian disebut dengan pixel) pada gambar lansekap di kotanya. Kemudian,Louis Jacques Daquerre (1837) menyempurnakannya dengan memperkenalkan Rana atau lebih dikenal dengan Shutter Speed(kecepatan media rekam menangkap cahaya) yang waktu itu untuk menghasilkan satu buah gamabar memerlukan waktu sekitar 8 jam. Kamera Daquerre ini disebut dengan kamera Obcura. Sir John Heschel (Inggris 1839) menyempurnakan eksperimen Daquerre dengan menambahkan pixelate (titik-titik gambar).
Fotografi berwarna pertama kali diperkenalkan oleh Maxwell pada tahun 1861, kemudian disempurnakan oleh Louis Ducos du Hauron pada tahun 1877.
Penemu Negatif Film (klise/seluloid) adalah John Hendri Fox Talbot (Inggris). Kemudian disempurnakan oleh sekelompok fotografer Amerika yang menamakan diri Snapshooter dengan kelebihan sensitifitas negative film menangkap cahaya yang selanjutnya disebut dengan ASA (Association American Standard). Dari kelompok itu pula, kamera Kodak pertama kali tercipta pada tahun 1888 oleh Eastmant Kodak. Dari Kodak itu kemudian berkembanglah jenis-jenis kamera seperti saat ini.
Flash/Lampu Kilat pertama kali ditemukan oleh Harold E. Edgerton pada tahun 1938.
FOTOGRAFI
Fotografi berasal dari bahasa Inggris Photography yang disadur dari bahasa Yunani yaitu “Fos” yang berarti cahaya, dan “Grafo” yang berarti menulis atau melukis. Jadi terjemahan bebas dari fotografi adalah “Melukis dengan Cahaya”.
Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau fotodari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.
Prinsip dasar fotografi sendiri adalah “Memfokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar media penangkap cahaya. Media yang telah dibakar dengan ukuran luminitas(besar/kecilnya cahaya)cahaya yang tepat, akan menghasilkan bayangan identik dengan cahaya yang masuk ke media pembiasan(lensa)”.
1.Pembagian Jenis Kamera Menurut Kebutuhannya
  • Manual SLR (Analog)
Kamera Manual SLR (Single Lens Reflector) adalah pencetus dasar fotografi professional pada awal abad 20. Kamera yang masih menggunakan media seluloid untuk merekam gambar ini mempunyai kelebihan pada sensitifitas negatifnya dalam menangkap cahaya dan mampu menjabarkan semua warna yang dipantulkan oleh matahari. Pada dasarnya, negative film atau seluloid itu sendiri mempunyai kepekaan menangkap cahaya hingga 3969 megapixel. Selain itu, kelebihan kamera ini terletak pada focus manual yang menjadi andalan hingga era DSLR saat ini.
  • Auto SLR (kamera SLR yang sudah menggunakan baterai sebagai tenaga penggeraknya)
Kamera ini masih turunan dari kamera analog yang disederhanakan dari tenaga kinetic/gerak si fotografer untuk mengganti/menarik negative menjadi tenaga kinetic auto yang disuplai dari baterai. Kamera ini dilengkapi dengan Auto-Focusing. Dari kamera inilah kemudian berkembang menjadi kamera Digital SLR.
  • Digital SLR
Berbeda dengan generasi SLR sebelumnya, Digital SLR ini menggunakan media pixel/titik/dot sebagai media perekam gambar. Kamera ini merangkum teknologi terkini dalam pengabadian gambar. Kisaran saat ini kamera DSLR mencapai kerapatan pixel dari 1.3 megapixel-25 megapixel.
  • Basic Compact
Jenis kamera yang satu ini bisa digolongkan dalam kamera saku/pocket yang tidak memerlukan setting manual yang berarti. Contohnya seperti kamera saku yang masih menggunakan negative film.


  • Advanced Compact
Untuk kamera yang satu ini, kamera pocket digital termasuk di dalamnya, karena sedikit banyak kamera pocket/saku yang saat ini beredar luas di masyarakat. Contohnya kamera pocket merk terkenal seperti Kodak, Fujifilm, dan Sony sudah mengadopsi pengaturan White Balance, ISO/ASA, dan Eksposur secara manual dalam Kamera tersebut.
  • Waterproof Camera
Dari namanya kita bisa menebak bahwa kamera ini adalah beberapa jenis kamera diatas yang mempunyai kelebihan mengambil gambar didalam air pada kedalaman maksimal 5 meter dari permukaan air.
  • Underwater Camera
Tidak berbeda jauh dari Waterproof, keunggulan kamera Underwater bisa merekam gambar pada kedalaman lebih dari 5 meter didalam air. Sampai saat ini, kamera Underwater yang tercanggih bisa menembus ke kedalaman maksimal 105 meter.
  • Wide-View Camera
Jenis kamera ini menggunakan lensa dengan focal length 5-16 mm. Kamera ini biasanya digunakan untuk memotret lansekap/pemandangan yang cukup luas.
  • Panoramic Camera
Tidak berbeda jauh dengan kamera Wide-View Camera, hanya saja kamera ini menggunakan format film 35 mm dengan aspek rasio gambar 16 : 9 (sering kita temukan dalam motion picture/film yang ada batas hitam di atas dan bawah gambarnya).
  • Large Format Camera
Untuk jenis kamera ini, kamera DSLR (buatan 2003 atau setelahnya) sudah mempunyai fiturnya, yaitu RAW(data/file rekaman mentah tanpa konversi ke JPEG)yang bisa diperbesar hingga 160 inch x 120 inch(tanpa proses editing ataupun konversi dengan standard minimum 14 megapixel).
  • Illution Camera
Kamera ini berbeda dengan kamera-kamera sebelumnya, karena kamera ini tidak hanya menangkap cahaya/mengabadikan gambar di dunia nyata tetapi juga telah dilengkapi dengan sensor inframerah yang mampu mengabadikan dunia lain atau makhluk halus!.
 2.Pembagian Jenis Kamera Menurut Cara Pengambilan Gambar
  • Viewfinder/Rangefinder Camera
Lebih luas dikenal dengan kamera saku/pocket.
  • SLR (Single Lens Reflector)
  • DLR/TLR (Double/Twin Lens Reflector)
Kamera ini sedikit berbeda dengan kamera SLR. Perbedaan secara mendasarnya adalah DLR/TLR ini menggunakan 2 reflektor dalam merekam, sedangkan SLR hanya menggunakan 1 reflektor.
  • View Camera
Jenis kamera yang terakhir ini jarang kita temui karena sangat eksklusif dikarenakan harga dan kegunaannya sangat berbeda jauh. Produsen yang memproduksi kamera ini seperti Bowen, Carl-Zeiss, dan Angenieux.
TEKNIK DASAR PENCAHAYAAN DALAM FOTOGRAFI
Dalam teknik dasar pencahayaan fotografi, ada 3 hal yang saling berkaitan,yaitu :
  • Rana/Shutter Speed
Rana atau yang lebih dikenal dengan Shutter Speed adalah kecepatan Mirror/Reflector untuk memasukan cahaya ke dalam media rekam. Lebih lengkapnya, rentang waktu antara buka dan tutupnya shutter saat pengambilan gambar. Semakin rendah kecepatan Rana, maka semakin banyak pula cahaya yang masuk ke dalam media rekam. Sebaliknya, semakin besar/cepat Rana-nya, maka semakin sedikit cahaya yang masuk ke dalam media rekam. Rana/Shutter Speed ini biasanya dinyatakan dalam satuan 1/… detik. Dalam kamera DSLR standar, speed yang paling tinggi biasanya berkisar dari 1/2000 detik hingga yang paling lambat 4 detik untuk satu kali pengambilan gambar.
  • Diafragma/Diaphragm/Aperture
Definisi Diafragma adalah ukuran seberapa besar lensa terbuka (bukaan lensa) saat kita mengambil gambar.
Saat kita menekan tombol shutter, lubang di depan sensor kamera kita akan membuka, setting aperture-lah yang menentukan seberapa besar lubang ini terbuka. Semakin besar lubang terbuka, makin banyak jumlah cahaya yang akan masuk terbaca oleh sensor.
Aperture atau bukaan dinyatakan dalam satuan f-stop. Sering kita membaca istilah bukaan/aperture 5.6, dalam bahasa fotografi yang lebih resmi bisa dinyatakan sebagai f/5.6. Seperti diungkap diatas, fungsi utama aperture adalah sebagai pengendali seberapa besar lubang didepan sensor terbuka. Semakin kecil angka f-stop berarti semakin besar lubang ini terbuka (dan semakin banyak volume cahaya yang masuk) serta sebaliknya, semakin besar angka f-stop semakin kecil lubang terbuka.
Lihat gambar di bawah ini:
  • ISO/ASA
Secara definisi ISO adalah ukuran tingkat sensifitas sensor kamera terhadap cahaya. Semakin tinggi setting ISO kita maka semakin sensitif sensor terhada cahaya.
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang setting ISO di kamera kita (ASA dalam kasus fotografi film), coba bayangkan mengenai sebuah komunitas lebah. Sebuah ISO adalah sebuah lebah pekerja. Jika kamera saya set di ISO 100, artinya saya memiliki 100 lebah pekerja. Dan jika kamera saya set di ISO 200 artinya saya memiliki 200 lebah pekerja.
Tugas setiap lebah pekerja adalah memungut cahaya yang masuk melalui lensa kamera dan membuat gambar. Jika kita menggunakan lensa identik dan aperture sama-sama kita set di f/3.5 namun saya mengeset ISO saya di 200 sementara anda 100 (bayangkan lagi tentang lebah pekerja), maka gambar punya siapakah yang akan lebih cepat selesai?
Secara garis besar, saat kita menambah setting ISO dari 100 ke 200 ( dalam aperture yang selalu konstan – kita kunci aperture di f/3.5 atau melalui mode Aperture Priority atau Av) , kita mempersingkat waktu yang dibutuhkan dalam pembuatan sebuah foto di sensor kamera kita sampai separuhnya (2 kali lebih cepat), dari shutter speed 1/125 ke 1/250 detik. Saat kita menambah lagi ISO ke 400, kita memangkas waktu pembuatan foto sampai separuhnya lagi : 1/500 detik. Setiap kali mempersingkat waktu eksposur sebanyak separuh , kita namakan menaikkan eksposur sebesar 1 stop.
Anda bisa mencoba pengertian ini dalam kasus aperture, cobalah set shutter speed kita selalu konstan pada 1/125 (atau melalui mode Shutter Priority atau Tv), dan ubah-ubahlah setting ISO anda dalam kelipatan 2; missal dari 100 ke 200 ke 400 …dst, lihatlah perubahan besaran aperture anda.
Ketika 3 hal di atas dipadukan, maka akan menghasilkan Eksposur,yaitu sebuah harmoni yang terbentuk dari besaran cahaya. Apabila dari ketiga elemen tersebut ada satu yang bergeser atau berubah, maka akan merubah elemen lain yang menyebabkan Eksposur pun akan berubah. Seorang fotografer, Bryan Peterson, lebih suka menyebut tiga elemen di atas sebagai Segitiga Eksposur (Understanding Exposure, Bryan Peterson).
Mungkin jalan yang paling mudah dalam memahami eksposur adalah dengan memberikan sebuah perumpamaan. Dalam hal ini saya menyukai perumpamaan segitiga eksposur seperti halnya sebuah keran air. Shutter speed bagi saya adalah berapa lama kita membuka keran, aperture adalah  seberapa lebar kita membuka keran dan ISO adalah kuatnya dorongan air dari PDAM, dan air yang mengalir melalui keran tersebut adalah cahaya yang diterima sensor kamera. Tentu bukan perumpamaan yang sempurna, tapi paling tidak kita mendapat ide dasarnya.
Besaran Eksposur biasanya diukur dari lightmeter yang ada di View-finder (SLR), atau pada LCD monitor (Digital Pocket dan Digital SLR).